Baik, ini mungkin memalukan, setidaknya bagi Non. Non menulis surat buat seseorang yang sudah meninggal. Non akan menceritakan seperti apa kondisi hati dan kepalanya Non tentang rasa senang akan valentine yang sudah lama mati suri sejak Non harus merayakan Hari Kasih Sayang itu di hadapan mayat Yuyut.
Yut!
Beberapa tahun lalu, tepatnya ditanggal 13 ini, Non merasa menghirup kabut berwarna merah muda *okeh, ini lebay* saat Yut mengajak Non kencan untuk pertama kalinya. Caranya Yut berbeda, Non suka. Tidak berbelit, rumit, pas, tidak meminta, dan tidak memaksa. Yut mendadak menawarkannya malam itu, dan Non sungguh tak kuasa menolaknya.Ya, kencan itu tertunda, karena waktu tidak sedang berpihak pada kita. Dan Yut tahu setelahnya? Non dicekik jutaan tanda tanya bercampur dengan rasa sesak yang menghentak hentak. Menanti kapan waktu gantinya terpilin dalam suatu angka di kalender. Non menanti teleponnya Yut dengan cara menghitung detik yang berlalu. Dan yaa memang ini penyakitnya Non, Non tak berani menanyakannya lebih dulu. Namun, Yut serasa membaca pikirannya Non. Yut mengajukan hari dan dengan segera Non bilang setuju.
Yut!
Tiba pada harinya. Sehari sebelumnya aku sudah mempersiapkan apa yang akan Non bawakan di hadapanmu. Tidak berlebihan. Non ingin merasa pas di depanmu. Di sekolah Non serasa ingin menyihir jam dinding. Andai ada baterai yang bisa membuatnya bergerak lebih cepat dan membuat matahari segera tenggelam. Ingin segera bertemu Yuyut.
Tiba jam pulang sekolah. Berlari kencang menuju tempat pertemuan kita. Singkat cerita, tibalah Non dirumah. Lalu segelumit bayangan memantul dari segala arah. Non tak tau cerita selanjutnya, karena yang Non tahu, Non sudah berada tepat dihadapan Peti dan sesosok lelakiu cakep yang selalu muncul di kepala Non tertidur kaku di dalamnya. Non tak ingin hari berganti. Non tak ingin ada esok. Non ingin tetap di hari itu, disitu, terjebak bersamamu. Namun seperti Cinderella, Non harus pulang dan kita hentikan rasa yang bertualang.
Jika memang dihendaki. Semoga akan ada kencan kedua, ketiga, dan selamanya nanti.
Yut!
Beberapa tahun lalu, tepatnya ditanggal 13 ini, Non merasa menghirup kabut berwarna merah muda *okeh, ini lebay* saat Yut mengajak Non kencan untuk pertama kalinya. Caranya Yut berbeda, Non suka. Tidak berbelit, rumit, pas, tidak meminta, dan tidak memaksa. Yut mendadak menawarkannya malam itu, dan Non sungguh tak kuasa menolaknya.Ya, kencan itu tertunda, karena waktu tidak sedang berpihak pada kita. Dan Yut tahu setelahnya? Non dicekik jutaan tanda tanya bercampur dengan rasa sesak yang menghentak hentak. Menanti kapan waktu gantinya terpilin dalam suatu angka di kalender. Non menanti teleponnya Yut dengan cara menghitung detik yang berlalu. Dan yaa memang ini penyakitnya Non, Non tak berani menanyakannya lebih dulu. Namun, Yut serasa membaca pikirannya Non. Yut mengajukan hari dan dengan segera Non bilang setuju.
Yut!
Tiba pada harinya. Sehari sebelumnya aku sudah mempersiapkan apa yang akan Non bawakan di hadapanmu. Tidak berlebihan. Non ingin merasa pas di depanmu. Di sekolah Non serasa ingin menyihir jam dinding. Andai ada baterai yang bisa membuatnya bergerak lebih cepat dan membuat matahari segera tenggelam. Ingin segera bertemu Yuyut.
Tiba jam pulang sekolah. Berlari kencang menuju tempat pertemuan kita. Singkat cerita, tibalah Non dirumah. Lalu segelumit bayangan memantul dari segala arah. Non tak tau cerita selanjutnya, karena yang Non tahu, Non sudah berada tepat dihadapan Peti dan sesosok lelakiu cakep yang selalu muncul di kepala Non tertidur kaku di dalamnya. Non tak ingin hari berganti. Non tak ingin ada esok. Non ingin tetap di hari itu, disitu, terjebak bersamamu. Namun seperti Cinderella, Non harus pulang dan kita hentikan rasa yang bertualang.
Jika memang dihendaki. Semoga akan ada kencan kedua, ketiga, dan selamanya nanti.
