Selasa, 28 Agustus 2012

Surat Lamaran Penuh Harap menjadi Tukang @PosCinta

Dear Bosse,

Bagaimana keadaan Bosse hari ini?
Sehat?

Bosse,
Waktu yang terus berlalu tanpa kita sadar bergulir tanpa pernah sekalipun lelah, mengantar kita dari pagi kembali ke pagi. Halah, apan ini? Tak terasa ya aku sudah lama tak menyapa Bosse lagi setelah program #30HariMenulisSuratCinta edisi Februari 2012 itu berakhir. Aku tahu Bosse pasti sudah melupakan aku, karena dari tiga puluh hari itu, suratku yang masuk dalam http://poscinta.com/ tak lebih dari dua puluh surat, itupun sudah terhitung dengan empat surat kaleng :(

Calon Bosseku sayang, aku benar-benar rindu menyapa Bosse hari ini. Jadi bolehkah aku menulis sebuah surat tentang betapa inginnya aku berharap bisa segera menjadi Tukang @PosCinta mu?

Bosse,
Aku tidak keberatan bila harus menjadi seorang perempuan yang harus menghabiskan waktuku dengan tumpukan-tumpukan surat. Aku berharap bisa menikmati kebahagian demi kebahagian, kesedihan demi kesedihan, kegalauan demi kegalauan atau perasaan apapun yang tercipta saat aku harus mengantarkan surat-surat itu.

Bosse jangan kuatir, aku akan pastikan bahwa aku akan dengan sangat hati-hati menjaga surat-surat cinta itu hingga sampai ke tangan pemiliknya yang sah. Seperti aku menjaga diriku untukmu, Bosse, halah. Maukah Bosse percaya padaku?

Bosse,
Kusudahi surat lamaranku ini yah (walau tak ingin). Jangan lupa, selesai membaca suratnya, ciumlah agar aku bisa merasakan harapan walau hanya dalam hati saja :)))))




Peluk dariku yang berdebar-debar menunggu kabar darimu


t

Minggu, 05 Agustus 2012

Topeng-Topeng (ku)


Kudapat melintas bumi,
Kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit,
Kudapat buatmu berseri

Perlahan suara Ariel vokalis Peterpan terdengar dari MP3 di laptop kesayanganku. Lagu yang akhir-akhir ini menjadi lagu wajibku setiap hari. Topeng, ya Topeng lagu yang liriknya tidak jenaka seperti judulnya, tapi mampu membuat aku terbius dan selalu ketawa. Hahaha, ya aku tertawa bukan karena liriknya tapi karena aku. Ya, aku sendiri.

Seperti biasa, aku mengawali hariku dengan duduk di depan cermin. Cantik. Itu selalu yang aku dapatkan setiap menatap sosok yang ada di dalam cermin itu. Seperti pagi-pagi yang sudah lewat, sosok cantik yang aku temui di dalam cermin itu selalu tersenyum padaku dengan senyuman sinisnya yang tak mampu aku balas. Pagi ini, kalau kuhitung, sudah yang ke 2dua puluh satu kalinya aku melihat sosok cantik itu tersenyum padaku saat aku merencanakan hari yang akan kulewati dan memikirkan strategi yang akan ku hadapi di hari ini dengan topengku. Ini sudah menjadi ritual wajibku, sehingga aku sudah tidak merasa aneh ataupun takut dengan topeng yang ada di dalam cermin itu.

Ya, aku ketakutan ketika pertama kali berhadapan dengannya. Waktu itu usiaku baru genap 21 tahun. Dia muncul tiba-tiba, ketika aku gelisah tidak bisa tidur sehari setalah hari ulang tahunku. Pikiranku diracuni masalah kejadian siang sebelumnya, sebelum pesta perayaan ulang tahunku dimulai. Siang itu, aku dan beberapa temanku berkumpul di sebuah kedai kopi depan kampusku untuk membahas rencana pertunjukan drama yang akan kami pentaskan di acara Natal bersama Kampus. Sinta, si penulis cerita, mengatur siapa yang berperan menjadi siapa. Kali itu aku hanya kebagian peran sebagai pemilik hotel. Dengan bersungut-sungut dalam hati, kuterima tugas itu. Aku sedikit kesal dan sakit hati, tidak mendapat peran utama. 

Maria, adalah seorang perempuan yang terkenal akan kecantikan hati dan wajahnya. Aku tidak terpilih karena Anggi, sahabat karibnya Sinta, ikut bermain bersama. Biasanya akulah yang selalu ditunjuk jadi pemeran utama. Itu kebanggaan. Cerita daramanya itu sendiri selalu sama setiap tahunnya. Tetapi begitu menyenangkan. Apalagi waktu aku didandan cantik. Bayangkan saja kau dilarang untuk melakukan sesuatu tetapi kau dapat melakukannya tanpa merasa bersalah melanggar larangan. Ya. di kampusku aku tidak dilarang memakai lipstik. Tapi, aku akan menjadi omongan teman-teman cowokku ketika terlihat ada yang aneh di daerah wajahku. Ya, begitulah anak teknik. Tentu saja jangan membayangkan aku dipoles dengan lipstik jenis matte atau lipbalm yang punya berbagai rasa seperti yang ada sekarang. Itulah yang membuat kekesalanku berkembang biak dan memenuhi setiap jengkal pikiranku. Gelap malam pun, tidak mampu menaklukkannya. 

Kekesalan membuatku tak merasa nyaman. Memberi ruang lapang bagi pikiran-pikiran buruk bergentayangan. Aku penasaran. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan duduk di depan cermin. Mengamati wajahku dengan seksama. Dari sisi kiri, sisi kanan, ataupun dari depan rasanya tidak ada yang berbeda. Bahkan kulihat wajahku makin cantik, bukan berkurang. Jauh melebihi kecantikan Anggi, seperti yang biasa orang-orang katakan. Lalu mengapa hari ini mereka merampas peranku? Merampas bahagiaku, kebanggaanku, mencampakkan dan tidak mengakui kecantikanku. Mengapa kebahagiaan harus berakhir? Hanya karena Anggi sahabatnya Sinta? Mengapa temanku tidak memprotes sebagai wujud solidaritas? Kehilangan kejujurannya ketika harus berhadapan dengan penguasa? Mengapa aku juga takut dan hanya mengumpat dalam hati? Gigiku bergemerutuk  menahan emosi. Tangan mungilku mengepalkan tangan. Bergetar. Ingin rasanya kupukul cermin di depanku. 

Tetapi tiba-tiba,     

“Kau gadis yang cantik, jangan gundah! aku akan membereskan masalahmu.“ Seorang gadis cantik di dalam cermin itu muncul mengagetkan. Beberapa menit kemudian, aku bisa menguasai diri dan berani menatap-nya.

“Si..si…siapa kau!” aku masih tergagap.

“Aku malaikat pendampingmu.“ katanya tenang. “Perlu cara khusus agar kamu bisa dipandang di tengah lingkunganmu bergaul yang gila tetapi mereka tidak menyadarinya.“ katanya lagi.

Aku terdiam sebentar lalu membantah.

“Aku hanya gadis yang ingin mendapat peran utama. Merampas peran itu, berarti tidak mengakui kecantikanku. Cantik adalah kata paling indah dalam kamus perempuan. Itu yang paling membuat aku kesal. Biarlah semua aku hadapi sendiri. Aku tidak membutuhkan saranmu.“

“Wah, kau keras kepala juga. “

“Itu tidak penting! tapi menurutmu aku cantik kan? “

“Ya! Ya. Sangat cantik malah, “ sambarnya. Aku mulai agak tertarik.

 “Coba ceritakan rencanamu.“ jawabku kali ini agak ketus. Menjaga gengsi, padahal aku  senang mengobrol karena dia menyebutku cantik sementara dia lebih cantik dari aku.

“Begini, aku mendengar kekesalan dan keluh kesahmu. Ketika kita kehilangan kepercayaan diri, amatlah mudah kita terpukau dan gampang sekali kita dihipnotis. Bukan dihipnotis dengan tepukan tangan, menepuk pundak atau mantra, tetapi dengan siasat dan tipu daya yang modern dan canggih.“ 

Dia diam sejenak. Mungkin memikirkan cara untuk memberitahuku dengan lebih mudah. Tak sampai satu menit, kemudian dia memberiku pertanyaan, 

“Kamu gelisah karena peranmu di rampas bukan?”

“Iya”

“Kamu takut  diabaikan orang bukan?”

“Iya”

“Takut adalah sebuah pengetahuan yang tidak lengkap. Jadi lupakan takut dan gelisahmu, turutilah apa saranku dan aku jamin kamu bisa menjadi apa yang kamu inginkan“

“Be..be..benarkah?“ aku mulai terpikat ceritanya

“Ya. Bahkan dengan kecantikan yang kamu miliki dan sedikit saran dari aku. Woko pasti akan jatuh cinta kepadamu “

“Ha…!” aku melongo. 

“Syaratnya mudah. Kamu cuma harus memakai topeng-topengku setiap hari. Dan topeng ini akan lengket di wajahmu “

“Tapi tidak mengurangi kecantikanku kan?“ aku sedikit ragu.

“Tidak. Hanya akan sedikit membuatmu kecanduan.“ 

Aku masih ragu dan gemetar, tapi bayangan Woko yang ganteng dan teman-temanku yang akan berdecak kagum memuji kecantikanku  menuntunku berkata  : “ Ok, kita sepakat.“ 

Dia mengangguk dan tertawa senang.

“Bagus bidadari cantik. Pejamkan wajahmu. Aku akan memasang topeng ini ke wajahmu.“

"Ya..ya,“ aku menganguk pelan.

Yang ada dipikiranku hanyalah agar aku lebih cantik dan semua orang mengakuinya. Setelah memakai topeng dan diberi resep untuk memikat Woko. Aku tidur nyenyak sekali malam itu. Benar saja, tak sampai satu minggu kemudian Woko bertekuk lutut di hadapanku. Tentu saja dengan topeng penampilan yang diselaraskan. Juga sedikit rekayasa bahwa aku perempuan hebat yang pantas dipilih dan sedikit bohong disana-sini. Topengku begitu memukaukan, hingga teman-temanku silau dan berdecak kagum. Mereka justru menghargaiku ketika aku memakai topeng. 

Aku ketagihan. Rasa nikmat memperdaya akal sehatku. Satu kebohonganku pun menyeret kebohongan lain. Satu rekayasa harus diikuti dengan rekayasa lain untuk menyakinkan orang dan menutupi malu. Dan kalau sudah begitu, yang bisa menyelamatkan  hanya si topeng. Keadaanlah yang memaksaku melakukan hal itu. Lambat laun ketergantunganku terhadap topeng semakin akut. Aku tidak merasa bersalah lagi melakukan apapun. 

Begitulah aku menjalani hidupku dengan mewah. Berkelas. Dan masuk pergaulan elit di kampusku sampai sekarang. Tapi pengalaman sore ini mencuci otakku. Aku berjumpa pengalaman yang mencengangkan.  Sayup-sayup malam tadi aku dengar teman kosanku yang baru marah-marah di telpon. Ketika aku datang menghampirinya, dia buru-buru menutup telepon. 

“Maaf Ken, saya agak lama memakai handphonemu,"

“Ngak pa-pa kok, ada apa kok kamu marah-marah?“

“Ee.ee. itu Ken, Kak Hendrik mengajak saya nonton "

“ Lho.. ini khan hari Minggu, kenapa gak kau terima saja? Bukannya kau sedang mengincar dia?“

“Iya..tapi saya nggak mau diajak nonton karena saya mau ibadah. Makanya saya damprat dia. Saya takut berdosa, Ken. Saya bisa mati sewaktu-waktu.“ 

Deg! 

Omongan Selly menghantam bathinku. 

Aku terduduk di atas tempat tidurku. Tubuhku bergetar hebat. Rinduku pada wajahku sendiri begitu membuncah, aku ingin melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup ini. Aku tidak mau mati memakai topeng. Aku takut nanti malaikat tidak mengenalku.

Pagi ini, gadis cantik di dalam cermin itu terlihat sedikit kelelahan, pelan-pelan kuambil gunting dari dalam laci meja riasku, dan dengan secepat kilat ku tancapkan di puncak kepala topeng itu. Sejenak gadis itu kaget, lalu menggelepar di lantai. Kulihat sekilas, gadis cantik itu hilang dari cermin.

Dan aku pun.

Kudapat melangkah pergi
Kau dapat cerahkan aku,
Kau dapat buatku berseri
Kau dapat buatku mati,
Kau dapat hitamkan pelangi

Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku disini,
Kudapat melangkah pergi

Suara Ariel vokalis Peter Pan masih terdengar jelas di MP3 dari laptop kesayanganku yang berada di atas tempat tidur.

Jumat, 03 Agustus 2012

Kita (pernah) Tertawa

Mentari pagi sudah mulai menampakkan dirinya.  Tetapi Kenny masih belum tertidur juga. Dia menangis sejadi-jadinya sejak tadi malam. Dia masih belum bisa terima keputusan kekasihnya yang menginginkan hubungan mereka berakhir dengan alasan yang tidak pernah dia ketahui.
Kenny sangat mencintai kekasihnya itu, sehingga dia sangat terpukul mendengar permintaan kekasihnya itu.

Tanpa kau sadari saat kau mencinta
Kau suntikkan racun didalam jiwaku
Mengalir perlahan di dalam darahku
Matikan aku dalam cintamu

Kau begitu indah bagiku
Kau aku mencintaimu
Dan kau hancurkan isi hatiku
Kau…


Itulah sepenggal lirik lagu yang mewakili perasaannya. Kenny mencoba untuk mengikhlaskan mantan kekasihnya itu untuk orang lain. Walaupun hatinya masih tak rela. 

*

Pagi berganti siang, siang berganti malam, dan malam berganti pagi. Hari demi hari Kenny lalui dengan senyuman. Dia tak ingin menampakkan kesedihannya itu kepada orang lain dan berusaha menjalani hari dengan penuh senyuman tanpa mantan kekasihnya itu. Dia sadar, untuk apa dia bersedih terus. Toh, mantannya itu tidak akan kembali lagi ke dia.

Selama berbulan-bulan Kenny menjomblo. Dia termasuk gadis yang cantik, cerdas, baik dan mudah bergaul. Tidak sedikit yang menyukainya. Banyak cowok yang ingin menjadi kekasihnya, tetapi diantara cowok-cowok yang mendekatinya itu, tidak ada satupun yang berkenan di hatinya. Sampai suatu saat dia bertemu teman lamanya di Gereja.

**

Woko dan Kenny sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit, sementara beberapa orang di taman itu sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

“Huft, bosen banget. Aku pengen punya pacar ynag bisa berbagi waktu denganku”, Kata Kenny memecah keheningan.

“Hehhe, kayaknya hanya kita berdua saja deh yang jomblo di taman ini, walaupun tidak kelihatan seperti orang jomblo”, jawab Woko.

Keduanya tertawa dan berdiam beberapa saat.

Kita tertawa kita bicara
Untuk merasakan tentang kita
Dan terlepas kita terdiam
Untuk melupakan

“Kayaknya aku ada ide bagus deh. Kita adakan permainan yuk?”, ujar Kenny dengan suara centilnya.

“Eh? permainan apaan?”, Woko mulai tertarik.

“Eng… gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 30 hari saja. Gimana menurutmu?”

Woko tampak berpikir. Kemudian keduanya saling berpandangan dan ketawa terbahak-bahak lagi. Kali ini sangat lama samapi-sampai airmata berderai di pipi mereka masing-masing.

“Baiklah…. lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan”, akhirnya Woko memutuskan.

“Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya… Semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?”

“Gimana kalo kita makan saja dulu? Aku laper pakek banget, kan baru habis futsalan”. 

“OK dech…. Yuk kita pergi sekarang. Kasihan juga lama-lama aku ngelihat tampang loyomu”.

***

Hari ke 2:

Woko dan Kenny menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di sebuah Café yang ada di Mall terbesar di Malang, suasana Cafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Woko membeli sebuah
boneka Kuromi super besar untuk Kenny.

Hari ke 3:

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan lainnya untuk mencari kado untuk seorang sahabat Woko. Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:

Bermain biliard dengan teman-teman Woko. Tangan Kenny terasa sakit karena tidak pernah bermain biliard sebelumnya. Woko memijit-mijit tangan Kenny dengan lembut. Ketika saling berpandangan, mereka ketawa terbahak-bahak.

Hari ke 12:

Woko mengajak Kenny makan malam di Payung II, Batu. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin. Sekali lagi Kenny memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 15: 

Woko berulang tahun. Kenny membuatkan kue ulang tahun untuk Woko. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Woko terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 21:

Menghabiskan waktu di Batu Night Spectacular - BNS. Naik halilintar, makan es krim bersama, bernarsis ria di Lampion Garden dan bermain petak umpet di Rumah Kaca. Woko menghadiahkan sebuah boneka Micky Mouse kecil untuk Kenny, dan Keny membelikan sebuah pulpen untuk Woko.
 
Hari ke 24:

Pergi ke Malang Tempoe Doeloe. Kenny penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang”, kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 26:

Woko mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Balai Kambang sangat sepi  karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 29:

Woko memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota .

15:20 pm

 “Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar”, rengek Kenny manja.

“Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?”

“Aku saja yang beli. Kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya”

Woko mengangguk. Kakinya memang pegal sekali karena hari itu Malang sangat macet.

15:30 pm

Woko sudah menunggu selama 10 menit and Kenny belum kembali juga.  Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

”Ada apa pak?”, tanya Woko dengan tampang heran.

”Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu”

Woko segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Kenny bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Woko segera melarikan motornya membawa Kenny ke rumah sakit terdekat. Woko duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm

“Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya.”

Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Woko dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Kenny. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Woko duduk disamping pembaringan Kenny dan menggenggam tangan Kenny dengan erat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Woko merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Kenny untuknya.

Dear Woko…

30 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di Payung, Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Satu alasan mungkin kenapa kau telah memikat hatiku tidak lain karena kau beda dari pria yg pernah ada dalam daftar pencarianku selama ini. Woko, aku sangat sayang padamu

23:58pm

“Kenny, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya. Kenny, kau tidak bisa meninggalkanku! Hari yang kita lalui baru berjumlah 29 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Kenny. Dengarkan aku bicara untuk sesaat dan terus berharap. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Aku masih disini lepaskan semua untuk mengerti. Aku mohon, Kenny dan bila semua terhenti, biarkan aku tetap menanti. Kenny, Aku sayang kamu…!”

Tanpa sadar, Woko ketawa terbahak-bahak mengingat semua yang terjadi 30 hari antara dia dan Kenny. Sesuatu yang awalnya terasa konyol namun membuahkan perasaan antara mereka.

Jam dinding berdentang 12 kali. Jantung Kenny berhenti berdetak. Hari itu adalah hari ke 30… Kenny pergi dengan tenang dan tinggalkan Woko masih membisu dengan wajah tetap begitu

Waktu terus berlalu, biarkan semua tetap membeku.
 
****

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi.

*****

Kita masih disini
Lepaskan semua untuk mengerti
Dan bila semua terhenti
Biarkan aku tetap menanti

Dengarkan aku bicara untuk sesaat
Dan terus berharap

Kita tertawa kita bicara
Untuk merasakan tentang kita
Dan terlepas kita terdiam
Untuk melupakan

Waktu terus berlalu
Tinggalkan kita masih membisu
Wajahmu tetap begitu
Biarkan semua tetap membeku


Cerita ini terinspirasi dari lagu Peter Pan, ‘Kita Tertawa’.