Selasa, 11 September 2012

Syuradikara pernah punya BADE


5900 Langkah: Sebuah Antologi Cerita Alumni Syuradikara, adalah sebuah buku antologi yang berisi 30 kisah yang ditulis oleh 28 alumni Syuradikara dari berbagai angkatan. Aku salah satunya. Di buku ini, kalian bisa menjumpai oretanku di halaman 127.

Layaknya semua alumni yang mengisahkan kenangan-kenangan mereka di Syuradikara, aku pun. disini aku tidak bercerita tentang gedung sekolah yang megah, kantin tempat nongkrong dengan pisang gorengnya yang khas, lopo tempat siswa-siswai yang menunggu les berikutnya, halaman yang rumputnya tidak boleh diinjak, kapela tempat kita latihan koor, lapangan basket dan lapangan bola kaki tempat olahraga, ruangan kelas dan laboratorium, bahkan jalan kenangan yang paling terkenal itu. Di sini aku menceritakan tentang BADE, genk sekolah yang terkenal di jamannya.

Aku cuman ingin semua orang yang membaca buku ini tahu kalau Syuradikara juga pernah punya BADE.



Selamat membaca :*****

Minggu, 09 September 2012

Kutukan Cinta #3

Masih saja ku teringat kata iringi kau pergi jadikan sore itu satu janji.
Kau akan setia untukku, kembali untuk diriku

Mengingatku walau aku jauh…
“Tom, bulan depan bulan apa?” Tanyanya , dengan memasang wajah lugu.

“September.” Jawabku, singkat, sambil menghisap sebatang rokok.

“Terus di September ada apa?” Tanyanya lagi.

“Iya, ulang tahunmu yang ke-25. Puas.”

“Kok Tommy marah? aku kan cuma ngingetin. Takut Tommy lupa lagi.” Sahutnya. Cemberut.

“Nggak kok, aku gak marah. Yeee, lagian kamu ngomongin itu mulu dari semalem. Bosen!”

“Tommy kan suka lupa, kayak tahun kemarin udah diingetin. Tetep lupa. Huuu…”

Entah kenapa aku bisa sayang sekali dengan gadis di sampingku ini, sikapnya yang manja dan agak sedikit kekanak-kanakan yang membuatku selalu ingin melindunginya. Bukan hanya aku, tapi seluruh keluargaku terlebih ibuku.

Jarum jam di tanganku sudah menunjuk ke pukul 19.00, seluruh penumpang dipersilakan untuk Check In dan menunggu di ruang Boarding Pass. Aku menatap jauh ke dalam manik-manik matanya, aku menemukan isyarat kalau ia belum mau pulang ke Jakarta. Tapi kalau ia tak segera pulang, sekolahnya terlantar.

“Tommy…”

“Udah, tahun depan juga ketemu lagi.”

“Iya…” Sahutnya sambil menyeka air mata.

“Masa cuma dipeluk doang.” Ucapnya lagi.

“Terus mau diapain?”

“Cium…”

Kemudian kudaratkan kecupku di atas keningnya.

“Hati-hati, sayang. I love you.”

“I love you too.” Jawabnya, dan kemudian dia sudah tak terlihat di antara kerumunan orang.

*

Sudah sebulan aku tak mengangkat telepon ataupun membalas SMS dan BBM darinya. Sengaja. Hari ini, aku berangkat ke Jakarta dan ibu menitipkan sesuatu yang begitu berharga baginya untuknya.
…Akupun sempat janjikan, ku kayuh semua mimpiku kulabuhkan tepat di kotamu.
Dan kaupun selalu janjikan akan menunggu ku datang bersatu kembali seperti dulu… Tunggulah aku di Jakartamu tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu, tempat labuhan semua mimpiku…
Pukul tujuh malam. Sembari menikmati makan malamku, aku mengetik sebuah pesan instant untuknya.

“Sayang, lagi apa? Aku ada kejutan buat kamu.”

Sayangnya belum ada report pesan terkirim yang muncul di hpku. Mungkin hpnya mati pikirku. Lalu menghabiskan makan malamku. Lagu – lagu yang di mainkan homeband itu membuat aku kembali teringat masa – masa perkenalan kami.

Sempat aku melihat ke jejeran kursi di depanku. Nampak sepasang lelaki dan perempuan dengan bahasa tubuh yang memperlihatkan keakraban mereka. Tubuh mereka membelakangiku. Namun semakin aku memperhatikan gerak gerik mereka nampak ada keganjilan. Mereka ini seperti pasangan kekasih. Beberapa kali salah satu dari mereka menggelayut manja pada yang satunya. Aku sedikit jijik mendapati pemandangan itu. Sesaat kemudian sang cowok memanggil seorang waiter. Kepalanya menengok ke samping seraya melambaikan tangan. Sebelah wajah cowok itu terlihat. .

“Ya Tuhan … Ardi??? Kenapa dia ada disini??”

Jantungku berdegup kencang. Aku bangkit dari kursinkuperlahan. Berpindah ke deretan kursi yang lebih dekat dengan meja Ardi. Aku melangkah perlahan agar keberadaanku tidak diketahui Ardi.
Kini antara aku dan pasangan itu hanya berjarak 5 meter. Mereka benar – benar tak menyadari keberadaanku. Mereka terus berbincang – bincang sambil sesekali berpegangan mesra. Musik yang menggema tak lagi menarik perhatian. Minuman di meja mereka sudah habis nampaknya. Mereka kelihatan akan meninggalkan meja.  Aku mengambil kuda – kuda. Mencoba menutupi wajahku dengan buku menu yang masih rapi di atas mejaku. Sesekali aku mengintip. Mereka berjalan membelakangiku. Aku terus mengikuti mereka. Rasa penasaran semakin kuat kurasakan. Aku bergaya ala detektif. Memperhatikan gerak – gerik mereka dengan seksama.

Ardi dan pasangannya itu menuju ke kolam yang kosong. Mereka duduk berdempetan. Tubuh Ardi dipijat mesra oleh pasangannya. Aku masih mengamati dari kejauhan. Namun aku seperti mengenali wanitadi samping Ardi. Pasangan Ardi berjalan menuju ke toilet. Aku kini menguntitnya. Membiarkan Ardi sendirian di kolam. Perasaanku makin tak karuan. Cara berjalan cewek ini sepertinya sangat aku kenal. Rasa penasaran dan emosi bercampur aduk jadi satu.  Saat aku memandang kearah betis cowok itu, tenggorokanku seakan tercekat.

“Bekas luka itu??”  ya bekas luka itu milik Senja.

Aku selalu mengingat dengan pasti apa yang ada pada kekasihku itu. Aku dan Senja pernah mengalami kecelakaan motor saat awal bulan lalu Senja pulang ke Bandung. Betisnya sobek. Harus di jahit. Namun bekas lukanya tak bisa hilang.

Tubuhku seketika lemas. 


Terinspirasi dari lagu Sheila on 7 – Tunggu Aku di jakarta