Minggu, 05 Agustus 2012

Topeng-Topeng (ku)


Kudapat melintas bumi,
Kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit,
Kudapat buatmu berseri

Perlahan suara Ariel vokalis Peterpan terdengar dari MP3 di laptop kesayanganku. Lagu yang akhir-akhir ini menjadi lagu wajibku setiap hari. Topeng, ya Topeng lagu yang liriknya tidak jenaka seperti judulnya, tapi mampu membuat aku terbius dan selalu ketawa. Hahaha, ya aku tertawa bukan karena liriknya tapi karena aku. Ya, aku sendiri.

Seperti biasa, aku mengawali hariku dengan duduk di depan cermin. Cantik. Itu selalu yang aku dapatkan setiap menatap sosok yang ada di dalam cermin itu. Seperti pagi-pagi yang sudah lewat, sosok cantik yang aku temui di dalam cermin itu selalu tersenyum padaku dengan senyuman sinisnya yang tak mampu aku balas. Pagi ini, kalau kuhitung, sudah yang ke 2dua puluh satu kalinya aku melihat sosok cantik itu tersenyum padaku saat aku merencanakan hari yang akan kulewati dan memikirkan strategi yang akan ku hadapi di hari ini dengan topengku. Ini sudah menjadi ritual wajibku, sehingga aku sudah tidak merasa aneh ataupun takut dengan topeng yang ada di dalam cermin itu.

Ya, aku ketakutan ketika pertama kali berhadapan dengannya. Waktu itu usiaku baru genap 21 tahun. Dia muncul tiba-tiba, ketika aku gelisah tidak bisa tidur sehari setalah hari ulang tahunku. Pikiranku diracuni masalah kejadian siang sebelumnya, sebelum pesta perayaan ulang tahunku dimulai. Siang itu, aku dan beberapa temanku berkumpul di sebuah kedai kopi depan kampusku untuk membahas rencana pertunjukan drama yang akan kami pentaskan di acara Natal bersama Kampus. Sinta, si penulis cerita, mengatur siapa yang berperan menjadi siapa. Kali itu aku hanya kebagian peran sebagai pemilik hotel. Dengan bersungut-sungut dalam hati, kuterima tugas itu. Aku sedikit kesal dan sakit hati, tidak mendapat peran utama. 

Maria, adalah seorang perempuan yang terkenal akan kecantikan hati dan wajahnya. Aku tidak terpilih karena Anggi, sahabat karibnya Sinta, ikut bermain bersama. Biasanya akulah yang selalu ditunjuk jadi pemeran utama. Itu kebanggaan. Cerita daramanya itu sendiri selalu sama setiap tahunnya. Tetapi begitu menyenangkan. Apalagi waktu aku didandan cantik. Bayangkan saja kau dilarang untuk melakukan sesuatu tetapi kau dapat melakukannya tanpa merasa bersalah melanggar larangan. Ya. di kampusku aku tidak dilarang memakai lipstik. Tapi, aku akan menjadi omongan teman-teman cowokku ketika terlihat ada yang aneh di daerah wajahku. Ya, begitulah anak teknik. Tentu saja jangan membayangkan aku dipoles dengan lipstik jenis matte atau lipbalm yang punya berbagai rasa seperti yang ada sekarang. Itulah yang membuat kekesalanku berkembang biak dan memenuhi setiap jengkal pikiranku. Gelap malam pun, tidak mampu menaklukkannya. 

Kekesalan membuatku tak merasa nyaman. Memberi ruang lapang bagi pikiran-pikiran buruk bergentayangan. Aku penasaran. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan duduk di depan cermin. Mengamati wajahku dengan seksama. Dari sisi kiri, sisi kanan, ataupun dari depan rasanya tidak ada yang berbeda. Bahkan kulihat wajahku makin cantik, bukan berkurang. Jauh melebihi kecantikan Anggi, seperti yang biasa orang-orang katakan. Lalu mengapa hari ini mereka merampas peranku? Merampas bahagiaku, kebanggaanku, mencampakkan dan tidak mengakui kecantikanku. Mengapa kebahagiaan harus berakhir? Hanya karena Anggi sahabatnya Sinta? Mengapa temanku tidak memprotes sebagai wujud solidaritas? Kehilangan kejujurannya ketika harus berhadapan dengan penguasa? Mengapa aku juga takut dan hanya mengumpat dalam hati? Gigiku bergemerutuk  menahan emosi. Tangan mungilku mengepalkan tangan. Bergetar. Ingin rasanya kupukul cermin di depanku. 

Tetapi tiba-tiba,     

“Kau gadis yang cantik, jangan gundah! aku akan membereskan masalahmu.“ Seorang gadis cantik di dalam cermin itu muncul mengagetkan. Beberapa menit kemudian, aku bisa menguasai diri dan berani menatap-nya.

“Si..si…siapa kau!” aku masih tergagap.

“Aku malaikat pendampingmu.“ katanya tenang. “Perlu cara khusus agar kamu bisa dipandang di tengah lingkunganmu bergaul yang gila tetapi mereka tidak menyadarinya.“ katanya lagi.

Aku terdiam sebentar lalu membantah.

“Aku hanya gadis yang ingin mendapat peran utama. Merampas peran itu, berarti tidak mengakui kecantikanku. Cantik adalah kata paling indah dalam kamus perempuan. Itu yang paling membuat aku kesal. Biarlah semua aku hadapi sendiri. Aku tidak membutuhkan saranmu.“

“Wah, kau keras kepala juga. “

“Itu tidak penting! tapi menurutmu aku cantik kan? “

“Ya! Ya. Sangat cantik malah, “ sambarnya. Aku mulai agak tertarik.

 “Coba ceritakan rencanamu.“ jawabku kali ini agak ketus. Menjaga gengsi, padahal aku  senang mengobrol karena dia menyebutku cantik sementara dia lebih cantik dari aku.

“Begini, aku mendengar kekesalan dan keluh kesahmu. Ketika kita kehilangan kepercayaan diri, amatlah mudah kita terpukau dan gampang sekali kita dihipnotis. Bukan dihipnotis dengan tepukan tangan, menepuk pundak atau mantra, tetapi dengan siasat dan tipu daya yang modern dan canggih.“ 

Dia diam sejenak. Mungkin memikirkan cara untuk memberitahuku dengan lebih mudah. Tak sampai satu menit, kemudian dia memberiku pertanyaan, 

“Kamu gelisah karena peranmu di rampas bukan?”

“Iya”

“Kamu takut  diabaikan orang bukan?”

“Iya”

“Takut adalah sebuah pengetahuan yang tidak lengkap. Jadi lupakan takut dan gelisahmu, turutilah apa saranku dan aku jamin kamu bisa menjadi apa yang kamu inginkan“

“Be..be..benarkah?“ aku mulai terpikat ceritanya

“Ya. Bahkan dengan kecantikan yang kamu miliki dan sedikit saran dari aku. Woko pasti akan jatuh cinta kepadamu “

“Ha…!” aku melongo. 

“Syaratnya mudah. Kamu cuma harus memakai topeng-topengku setiap hari. Dan topeng ini akan lengket di wajahmu “

“Tapi tidak mengurangi kecantikanku kan?“ aku sedikit ragu.

“Tidak. Hanya akan sedikit membuatmu kecanduan.“ 

Aku masih ragu dan gemetar, tapi bayangan Woko yang ganteng dan teman-temanku yang akan berdecak kagum memuji kecantikanku  menuntunku berkata  : “ Ok, kita sepakat.“ 

Dia mengangguk dan tertawa senang.

“Bagus bidadari cantik. Pejamkan wajahmu. Aku akan memasang topeng ini ke wajahmu.“

"Ya..ya,“ aku menganguk pelan.

Yang ada dipikiranku hanyalah agar aku lebih cantik dan semua orang mengakuinya. Setelah memakai topeng dan diberi resep untuk memikat Woko. Aku tidur nyenyak sekali malam itu. Benar saja, tak sampai satu minggu kemudian Woko bertekuk lutut di hadapanku. Tentu saja dengan topeng penampilan yang diselaraskan. Juga sedikit rekayasa bahwa aku perempuan hebat yang pantas dipilih dan sedikit bohong disana-sini. Topengku begitu memukaukan, hingga teman-temanku silau dan berdecak kagum. Mereka justru menghargaiku ketika aku memakai topeng. 

Aku ketagihan. Rasa nikmat memperdaya akal sehatku. Satu kebohonganku pun menyeret kebohongan lain. Satu rekayasa harus diikuti dengan rekayasa lain untuk menyakinkan orang dan menutupi malu. Dan kalau sudah begitu, yang bisa menyelamatkan  hanya si topeng. Keadaanlah yang memaksaku melakukan hal itu. Lambat laun ketergantunganku terhadap topeng semakin akut. Aku tidak merasa bersalah lagi melakukan apapun. 

Begitulah aku menjalani hidupku dengan mewah. Berkelas. Dan masuk pergaulan elit di kampusku sampai sekarang. Tapi pengalaman sore ini mencuci otakku. Aku berjumpa pengalaman yang mencengangkan.  Sayup-sayup malam tadi aku dengar teman kosanku yang baru marah-marah di telpon. Ketika aku datang menghampirinya, dia buru-buru menutup telepon. 

“Maaf Ken, saya agak lama memakai handphonemu,"

“Ngak pa-pa kok, ada apa kok kamu marah-marah?“

“Ee.ee. itu Ken, Kak Hendrik mengajak saya nonton "

“ Lho.. ini khan hari Minggu, kenapa gak kau terima saja? Bukannya kau sedang mengincar dia?“

“Iya..tapi saya nggak mau diajak nonton karena saya mau ibadah. Makanya saya damprat dia. Saya takut berdosa, Ken. Saya bisa mati sewaktu-waktu.“ 

Deg! 

Omongan Selly menghantam bathinku. 

Aku terduduk di atas tempat tidurku. Tubuhku bergetar hebat. Rinduku pada wajahku sendiri begitu membuncah, aku ingin melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup ini. Aku tidak mau mati memakai topeng. Aku takut nanti malaikat tidak mengenalku.

Pagi ini, gadis cantik di dalam cermin itu terlihat sedikit kelelahan, pelan-pelan kuambil gunting dari dalam laci meja riasku, dan dengan secepat kilat ku tancapkan di puncak kepala topeng itu. Sejenak gadis itu kaget, lalu menggelepar di lantai. Kulihat sekilas, gadis cantik itu hilang dari cermin.

Dan aku pun.

Kudapat melangkah pergi
Kau dapat cerahkan aku,
Kau dapat buatku berseri
Kau dapat buatku mati,
Kau dapat hitamkan pelangi

Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku disini,
Kudapat melangkah pergi

Suara Ariel vokalis Peter Pan masih terdengar jelas di MP3 dari laptop kesayanganku yang berada di atas tempat tidur.

1 komentar: