Jumat, 03 Agustus 2012

Kita (pernah) Tertawa

Mentari pagi sudah mulai menampakkan dirinya.  Tetapi Kenny masih belum tertidur juga. Dia menangis sejadi-jadinya sejak tadi malam. Dia masih belum bisa terima keputusan kekasihnya yang menginginkan hubungan mereka berakhir dengan alasan yang tidak pernah dia ketahui.
Kenny sangat mencintai kekasihnya itu, sehingga dia sangat terpukul mendengar permintaan kekasihnya itu.

Tanpa kau sadari saat kau mencinta
Kau suntikkan racun didalam jiwaku
Mengalir perlahan di dalam darahku
Matikan aku dalam cintamu

Kau begitu indah bagiku
Kau aku mencintaimu
Dan kau hancurkan isi hatiku
Kau…


Itulah sepenggal lirik lagu yang mewakili perasaannya. Kenny mencoba untuk mengikhlaskan mantan kekasihnya itu untuk orang lain. Walaupun hatinya masih tak rela. 

*

Pagi berganti siang, siang berganti malam, dan malam berganti pagi. Hari demi hari Kenny lalui dengan senyuman. Dia tak ingin menampakkan kesedihannya itu kepada orang lain dan berusaha menjalani hari dengan penuh senyuman tanpa mantan kekasihnya itu. Dia sadar, untuk apa dia bersedih terus. Toh, mantannya itu tidak akan kembali lagi ke dia.

Selama berbulan-bulan Kenny menjomblo. Dia termasuk gadis yang cantik, cerdas, baik dan mudah bergaul. Tidak sedikit yang menyukainya. Banyak cowok yang ingin menjadi kekasihnya, tetapi diantara cowok-cowok yang mendekatinya itu, tidak ada satupun yang berkenan di hatinya. Sampai suatu saat dia bertemu teman lamanya di Gereja.

**

Woko dan Kenny sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit, sementara beberapa orang di taman itu sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

“Huft, bosen banget. Aku pengen punya pacar ynag bisa berbagi waktu denganku”, Kata Kenny memecah keheningan.

“Hehhe, kayaknya hanya kita berdua saja deh yang jomblo di taman ini, walaupun tidak kelihatan seperti orang jomblo”, jawab Woko.

Keduanya tertawa dan berdiam beberapa saat.

Kita tertawa kita bicara
Untuk merasakan tentang kita
Dan terlepas kita terdiam
Untuk melupakan

“Kayaknya aku ada ide bagus deh. Kita adakan permainan yuk?”, ujar Kenny dengan suara centilnya.

“Eh? permainan apaan?”, Woko mulai tertarik.

“Eng… gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 30 hari saja. Gimana menurutmu?”

Woko tampak berpikir. Kemudian keduanya saling berpandangan dan ketawa terbahak-bahak lagi. Kali ini sangat lama samapi-sampai airmata berderai di pipi mereka masing-masing.

“Baiklah…. lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan”, akhirnya Woko memutuskan.

“Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya… Semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?”

“Gimana kalo kita makan saja dulu? Aku laper pakek banget, kan baru habis futsalan”. 

“OK dech…. Yuk kita pergi sekarang. Kasihan juga lama-lama aku ngelihat tampang loyomu”.

***

Hari ke 2:

Woko dan Kenny menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di sebuah Café yang ada di Mall terbesar di Malang, suasana Cafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Woko membeli sebuah
boneka Kuromi super besar untuk Kenny.

Hari ke 3:

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan lainnya untuk mencari kado untuk seorang sahabat Woko. Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:

Bermain biliard dengan teman-teman Woko. Tangan Kenny terasa sakit karena tidak pernah bermain biliard sebelumnya. Woko memijit-mijit tangan Kenny dengan lembut. Ketika saling berpandangan, mereka ketawa terbahak-bahak.

Hari ke 12:

Woko mengajak Kenny makan malam di Payung II, Batu. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin. Sekali lagi Kenny memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 15: 

Woko berulang tahun. Kenny membuatkan kue ulang tahun untuk Woko. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Woko terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 21:

Menghabiskan waktu di Batu Night Spectacular - BNS. Naik halilintar, makan es krim bersama, bernarsis ria di Lampion Garden dan bermain petak umpet di Rumah Kaca. Woko menghadiahkan sebuah boneka Micky Mouse kecil untuk Kenny, dan Keny membelikan sebuah pulpen untuk Woko.
 
Hari ke 24:

Pergi ke Malang Tempoe Doeloe. Kenny penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang”, kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 26:

Woko mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Balai Kambang sangat sepi  karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 29:

Woko memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota .

15:20 pm

 “Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar”, rengek Kenny manja.

“Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?”

“Aku saja yang beli. Kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya”

Woko mengangguk. Kakinya memang pegal sekali karena hari itu Malang sangat macet.

15:30 pm

Woko sudah menunggu selama 10 menit and Kenny belum kembali juga.  Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

”Ada apa pak?”, tanya Woko dengan tampang heran.

”Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu”

Woko segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Kenny bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Woko segera melarikan motornya membawa Kenny ke rumah sakit terdekat. Woko duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm

“Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya.”

Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Woko dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Kenny. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Woko duduk disamping pembaringan Kenny dan menggenggam tangan Kenny dengan erat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Woko merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Kenny untuknya.

Dear Woko…

30 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di Payung, Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Satu alasan mungkin kenapa kau telah memikat hatiku tidak lain karena kau beda dari pria yg pernah ada dalam daftar pencarianku selama ini. Woko, aku sangat sayang padamu

23:58pm

“Kenny, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya. Kenny, kau tidak bisa meninggalkanku! Hari yang kita lalui baru berjumlah 29 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Kenny. Dengarkan aku bicara untuk sesaat dan terus berharap. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Aku masih disini lepaskan semua untuk mengerti. Aku mohon, Kenny dan bila semua terhenti, biarkan aku tetap menanti. Kenny, Aku sayang kamu…!”

Tanpa sadar, Woko ketawa terbahak-bahak mengingat semua yang terjadi 30 hari antara dia dan Kenny. Sesuatu yang awalnya terasa konyol namun membuahkan perasaan antara mereka.

Jam dinding berdentang 12 kali. Jantung Kenny berhenti berdetak. Hari itu adalah hari ke 30… Kenny pergi dengan tenang dan tinggalkan Woko masih membisu dengan wajah tetap begitu

Waktu terus berlalu, biarkan semua tetap membeku.
 
****

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi.

*****

Kita masih disini
Lepaskan semua untuk mengerti
Dan bila semua terhenti
Biarkan aku tetap menanti

Dengarkan aku bicara untuk sesaat
Dan terus berharap

Kita tertawa kita bicara
Untuk merasakan tentang kita
Dan terlepas kita terdiam
Untuk melupakan

Waktu terus berlalu
Tinggalkan kita masih membisu
Wajahmu tetap begitu
Biarkan semua tetap membeku


Cerita ini terinspirasi dari lagu Peter Pan, ‘Kita Tertawa’.

2 komentar:

  1. Gile loe tel, bise aje loe buat yang kayak gini :(( WOKO??? okeh udah gak ada yg namananya Hendrik lagi ya??

    BalasHapus
  2. CEEEEEEEEEDDDDDDDDIIIIIIIIHHHHHHHH

    BalasHapus