Kudapat melintas bumi,
Kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit,
Kudapat buatmu berseri
Kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit,
Kudapat buatmu berseri
Perlahan suara
Ariel vokalis Peterpan terdengar dari MP3 di laptop kesayanganku. Lagu yang
akhir-akhir ini menjadi lagu wajibku setiap hari. Topeng, ya Topeng lagu yang
liriknya tidak jenaka seperti judulnya, tapi mampu membuat aku terbius dan
selalu ketawa. Hahaha, ya aku tertawa bukan karena liriknya tapi karena aku. Ya,
aku sendiri.
Seperti biasa, aku
mengawali hariku dengan duduk di depan cermin. Cantik. Itu selalu yang aku
dapatkan setiap menatap sosok yang ada di dalam cermin itu. Seperti pagi-pagi
yang sudah lewat, sosok cantik yang aku temui di dalam cermin itu selalu
tersenyum padaku dengan senyuman sinisnya yang tak mampu aku balas. Pagi ini,
kalau kuhitung, sudah yang ke 2dua puluh satu kalinya aku melihat sosok cantik
itu tersenyum padaku saat aku merencanakan hari yang akan kulewati dan
memikirkan strategi yang akan ku hadapi di hari ini dengan topengku. Ini sudah
menjadi ritual wajibku, sehingga aku sudah tidak merasa aneh ataupun takut
dengan topeng yang ada di dalam cermin itu.
Ya, aku ketakutan
ketika pertama kali berhadapan dengannya. Waktu itu usiaku baru genap 21 tahun.
Dia muncul tiba-tiba, ketika aku gelisah tidak bisa tidur sehari setalah hari
ulang tahunku. Pikiranku diracuni masalah kejadian siang sebelumnya, sebelum
pesta perayaan ulang tahunku dimulai. Siang itu, aku dan beberapa temanku
berkumpul di sebuah kedai kopi depan kampusku untuk membahas rencana
pertunjukan drama yang akan kami pentaskan di acara Natal bersama Kampus.
Sinta, si penulis cerita, mengatur siapa yang berperan menjadi siapa. Kali itu
aku hanya kebagian peran sebagai pemilik hotel. Dengan
bersungut-sungut dalam hati, kuterima tugas itu. Aku sedikit kesal dan sakit
hati, tidak mendapat peran utama.
Maria, adalah seorang perempuan yang terkenal akan kecantikan hati
dan wajahnya. Aku tidak terpilih karena Anggi, sahabat karibnya Sinta, ikut
bermain bersama. Biasanya akulah yang selalu ditunjuk jadi pemeran utama. Itu
kebanggaan. Cerita daramanya itu sendiri selalu sama setiap tahunnya. Tetapi
begitu menyenangkan. Apalagi waktu aku didandan cantik. Bayangkan saja kau
dilarang untuk melakukan sesuatu tetapi kau dapat melakukannya tanpa merasa
bersalah melanggar larangan. Ya. di kampusku aku tidak dilarang memakai
lipstik. Tapi, aku akan menjadi omongan teman-teman cowokku ketika terlihat ada
yang aneh di daerah wajahku. Ya, begitulah anak teknik. Tentu saja jangan
membayangkan aku dipoles dengan lipstik jenis matte atau lipbalm yang punya berbagai rasa seperti
yang ada sekarang. Itulah yang membuat kekesalanku berkembang biak dan memenuhi
setiap jengkal pikiranku. Gelap malam pun, tidak mampu menaklukkannya.
Kekesalan membuatku tak merasa nyaman. Memberi ruang lapang bagi
pikiran-pikiran buruk bergentayangan. Aku penasaran. Perlahan aku bangkit dari
tempat tidur dan duduk di depan cermin. Mengamati wajahku dengan seksama. Dari
sisi kiri, sisi kanan, ataupun dari depan rasanya tidak ada yang berbeda.
Bahkan kulihat wajahku makin cantik, bukan berkurang. Jauh melebihi kecantikan Anggi,
seperti yang biasa orang-orang katakan. Lalu mengapa hari ini mereka merampas
peranku? Merampas bahagiaku, kebanggaanku, mencampakkan dan tidak mengakui
kecantikanku. Mengapa kebahagiaan harus berakhir? Hanya karena Anggi sahabatnya
Sinta? Mengapa temanku tidak memprotes sebagai wujud solidaritas? Kehilangan
kejujurannya ketika harus berhadapan dengan penguasa? Mengapa aku juga takut
dan hanya mengumpat dalam hati? Gigiku bergemerutuk menahan emosi. Tangan
mungilku mengepalkan tangan. Bergetar. Ingin rasanya kupukul cermin di depanku.
Tetapi tiba-tiba,
“Kau gadis yang
cantik, jangan gundah! aku akan membereskan masalahmu.“ Seorang gadis cantik di
dalam cermin itu muncul mengagetkan. Beberapa menit kemudian, aku bisa
menguasai diri dan berani menatap-nya.
“Si..si…siapa
kau!” aku masih tergagap.
“Aku malaikat
pendampingmu.“ katanya tenang. “Perlu cara khusus agar kamu bisa dipandang di
tengah lingkunganmu bergaul yang gila tetapi mereka tidak menyadarinya.“
katanya lagi.
Aku terdiam
sebentar lalu membantah.
“Aku hanya gadis yang
ingin mendapat peran utama. Merampas peran itu, berarti tidak mengakui
kecantikanku. Cantik adalah kata paling indah dalam kamus perempuan. Itu yang paling membuat aku kesal.
Biarlah semua aku hadapi sendiri. Aku tidak membutuhkan saranmu.“
“Wah, kau keras
kepala juga. “
“Itu tidak
penting! tapi menurutmu aku cantik kan? “
“Ya! Ya. Sangat
cantik malah, “ sambarnya. Aku mulai agak tertarik.
“Coba ceritakan rencanamu.“ jawabku kali ini agak ketus. Menjaga gengsi,
padahal aku senang mengobrol karena dia menyebutku cantik
sementara dia lebih cantik dari aku.
“Begini, aku
mendengar kekesalan dan keluh kesahmu. Ketika kita kehilangan
kepercayaan diri, amatlah mudah kita terpukau dan gampang sekali kita
dihipnotis. Bukan dihipnotis dengan tepukan tangan, menepuk pundak atau mantra,
tetapi dengan siasat dan tipu daya yang modern dan canggih.“
Dia diam sejenak.
Mungkin memikirkan cara untuk memberitahuku dengan lebih mudah. Tak sampai satu
menit, kemudian dia memberiku pertanyaan,
“Kamu gelisah karena
peranmu di rampas bukan?”
“Iya”
“Kamu takut
diabaikan orang bukan?”
“Iya”
“Takut adalah
sebuah pengetahuan yang tidak lengkap. Jadi lupakan takut dan gelisahmu,
turutilah apa saranku dan aku jamin kamu bisa menjadi apa yang kamu inginkan“
“Be..be..benarkah?“
aku mulai terpikat ceritanya
“Ya. Bahkan dengan
kecantikan yang kamu miliki dan sedikit saran dari aku. Woko pasti akan jatuh
cinta kepadamu “
“Ha…!” aku
melongo.
“Tapi tidak
mengurangi kecantikanku kan?“ aku sedikit ragu.
“Tidak. Hanya akan
sedikit membuatmu kecanduan.“
Aku masih ragu dan
gemetar, tapi bayangan Woko yang ganteng dan teman-temanku yang akan berdecak
kagum memuji kecantikanku menuntunku berkata : “ Ok, kita sepakat.“
Dia mengangguk dan
tertawa senang.
“Bagus bidadari
cantik. Pejamkan wajahmu. Aku akan memasang topeng ini ke wajahmu.“
"Ya..ya,“ aku menganguk pelan.
Yang ada
dipikiranku hanyalah agar aku lebih cantik dan semua orang mengakuinya. Setelah
memakai topeng dan diberi resep untuk memikat Woko. Aku tidur nyenyak sekali
malam itu. Benar saja, tak sampai satu minggu kemudian Woko bertekuk lutut di
hadapanku. Tentu saja dengan topeng penampilan yang diselaraskan. Juga sedikit
rekayasa bahwa aku perempuan hebat yang pantas dipilih dan sedikit bohong
disana-sini. Topengku begitu memukaukan, hingga teman-temanku silau dan
berdecak kagum. Mereka justru menghargaiku ketika aku memakai topeng.
Aku ketagihan.
Rasa nikmat memperdaya akal sehatku. Satu kebohonganku pun menyeret kebohongan
lain. Satu rekayasa harus diikuti dengan rekayasa lain untuk menyakinkan orang
dan menutupi malu. Dan kalau sudah begitu, yang bisa menyelamatkan hanya
si topeng. Keadaanlah yang memaksaku melakukan hal itu. Lambat laun
ketergantunganku terhadap topeng semakin akut. Aku tidak merasa bersalah lagi
melakukan apapun.
Begitulah aku
menjalani hidupku dengan mewah. Berkelas. Dan masuk pergaulan elit di kampusku
sampai sekarang. Tapi pengalaman sore ini mencuci otakku. Aku berjumpa
pengalaman yang mencengangkan. Sayup-sayup malam tadi aku dengar teman
kosanku yang baru marah-marah di telpon. Ketika aku datang menghampirinya, dia
buru-buru menutup telepon.
“Maaf Ken, saya
agak lama memakai handphonemu,"
“Ngak pa-pa kok,
ada apa kok kamu marah-marah?“
“Ee.ee. itu Ken, Kak
Hendrik mengajak saya nonton "
“ Lho.. ini khan
hari Minggu, kenapa gak kau terima saja? Bukannya kau sedang mengincar dia?“
“Iya..tapi saya
nggak mau diajak nonton karena saya mau ibadah. Makanya saya damprat dia. Saya
takut berdosa, Ken. Saya bisa mati sewaktu-waktu.“
Deg!
Omongan Selly
menghantam bathinku.
Aku terduduk di atas
tempat tidurku. Tubuhku bergetar hebat. Rinduku pada wajahku sendiri begitu
membuncah, aku ingin melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup ini. Aku tidak
mau mati memakai topeng. Aku takut nanti malaikat tidak mengenalku.
Pagi ini, gadis
cantik di dalam cermin itu terlihat sedikit kelelahan, pelan-pelan kuambil
gunting dari dalam laci meja riasku, dan dengan secepat kilat ku tancapkan di puncak kepala topeng itu. Sejenak gadis itu kaget, lalu menggelepar di lantai. Kulihat
sekilas, gadis cantik itu hilang dari cermin.
Dan aku pun.
Kudapat melangkah pergi
Kau dapat cerahkan aku,
Kau dapat buatku berseri
Kau dapat buatku mati,
Kau dapat hitamkan pelangi
Kau dapat cerahkan aku,
Kau dapat buatku berseri
Kau dapat buatku mati,
Kau dapat hitamkan pelangi
Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku disini,
Kudapat melangkah pergi
Suara Ariel vokalis Peter Pan masih terdengar
jelas di MP3 dari laptop kesayanganku yang berada di atas tempat tidur.
KEEEEEEEEERRRRRRRREEEENNNNNNNNN
BalasHapus