Senja itu datang. Sama seperti dulu, senja tak pernah berubah. Senja yang sama yang menjadi saksi saat hati ini begitu perih. Yah, sakit hati karenamu, karena cintaku untukmu. Mungkin aku tak pantas menyalahkan senja. Mungkin aku tak pantas menyalahkanmu. Ini luka hatiku. Luka karena aku begitu pengecut, begitu tak ingin terluka. Dan akhirnya, pufft, aku sendiri yang terluka. Hanya aku.
Dua tahun sudah sakit hati ini membayangi setiap langkah dalam kehidupanku. 2 tahun bukan waktu yang singkat, tapi aku tetap tak mampu menghapus kenangan tentangmu. Entah kenapa aku tak mampu melakukannya. Mungkin aku bodoh, tapi kenyataannya tak ada yang mampu menggantikan posisimu di hatiku selama 2 tahun ini.
Hendrik, 2 tahun sudah waktu meninggalkan cerita persahabatan yang telah kunodai dengan perasaan cintaku untukmu, cinta yangg tak pernah kau tahu. Waktu telah menjadikannya sebuah kenangan. Kenangan pahit untukku, Hendrik. Kenangan yang sangat sulit kuhapuskan dari dalam pikiranku dan kenangan yang tak bisa kubuang. Hendrik, betapa sulit untuk melupakanmu.
Saat senja datang, kenangan tentangmu seolah berputar dalam memoriku. Saat kita menikmati tenggelamnya matahari. Senja. Saat kita biasa bercanda dan tertawa setelah seharian belajar, kamu ingat itu, Hendrik? Saat senja itu datang, kita juga sering menyempatkan diri untuk sekedar menikmati secangkir kopi di warung Mas Wawan dekat kosku.
Hendrik, dulu aku sangat menyukai senja. Senja yang begitu indah, karena hanya untuk melihatnya, kita harus menunggu matahari untuk tenggelam.
"Mentari, lagi ngapain disini?", tanyamu.
"Senja itu begitu indah Kaks. Meski matahari harus tenggelam tuk bisa melihatnya".
Itu kataku saat kau datang dan menanyakan kenapa aku duduk di tanah sambil memandang ke langit yang hampir gelap itu.
"Mentari harus tenggelam untuk melihat indahnya warna langit senja", katamu.
"Aku harus pergi supaya kau dan semua orang yang menyukai langit sore bisa lihat cantiknya senja. Karena saat ada mentari, kau tak akan bisa melihat senja".
Pembicaraan kita itu kini terngiang lagi di kepala. Kau sendiri yang bilang padaku, Mentari harus tenggelam jika kau ingin melihat warna senja. Senja itu masih indah, walaupun sekarang aku membenci senja itu. Asal kau tahu, kau yang membuatku begitu membenci senja. Senja di langit yang berwarna jingga. JINGGA, nama itu dan senja yang menjadi saksi. Semua berakhir saat Jingga datang, datang dalam kehidupanmu. Kau telah menemukannya, Hendrik.
Kau menemukan Jingga yang secantik langit sore senja. Kau tau artinya, Mentari harus pergi. Ya, aku harus pergi agar jingga bisa menghiasi langit. Dia yang kauinginkan. Aku tak pernah lupa semua ceritamu tentangnya, cerita yang kau sampaikan kepadaku saat warna senja menghiasi langit. Tentang pertemuanmu dengan Jingga yang di bawah langit sore. Kecantikannya setara dengan indahnya senja. Dan namanya, Jingga. Jingga, warna yang hanya mampu dihasilkan sang senja, saat sang mentari harus tenggelam.
Itulah yang membuatku begitu membenci senja. Semuanya mengingatkanku padamu, pada Jingga, dan kenyataan bahwa kau mencintainya. BUKAN DIRIKU!
"Mentari, kemarin aku bertemu dengan seorang gadis", katamu. Aku hanya terdiam, mencoba menata hatiku. Mencoba untuk menahan rasa kecewa, marah dan air mataku yang akan terjatuh. Akhirnya hanya sebuah senyum yang mampu kuberikan untukmu. Senyuman sebagai tanda bahwa kau bisa melanjutkan cerita dengannya. Dengan gadis yang telah membuatmu jatuh cinta. Dan sekali lagi, BUKAN DIRIKU!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar