Ini
kerinduan ku untuk Kamu, ya Kamu. Linangan air mata bertetesan
deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang
gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya
setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.
Aku hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh
untuk wanita lemah ini yang dirundung kerinduan, sekaligus
duka dan kesedihan? Aku tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada yang di atas sana. Aku juga tidak akan menularkan kepedihan ini
kepada orang lain.
Kamu,
Walaupun bagaimanapun engkau masih sebagian kecil dari hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku...
Kerinduan untukmu masih tetap ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar