Masih saja ku teringat kata iringi kau pergi jadikan sore itu satu janji.
Kau akan setia untukku, kembali untuk diriku
Mengingatku walau aku jauh…
“Tom, bulan depan bulan apa?” Tanyanya , dengan memasang wajah lugu.
“September.” Jawabku, singkat, sambil menghisap sebatang rokok.
“Terus di September ada apa?” Tanyanya lagi.
“Iya, ulang tahunmu yang ke-25. Puas.”
“Kok Tommy marah? aku kan cuma ngingetin. Takut Tommy lupa lagi.” Sahutnya. Cemberut.
“Nggak kok, aku gak marah. Yeee, lagian kamu ngomongin itu mulu dari semalem. Bosen!”
“Tommy kan suka lupa, kayak tahun kemarin udah diingetin. Tetep lupa. Huuu…”
Entah kenapa aku bisa sayang sekali dengan gadis di sampingku ini,
sikapnya yang manja dan agak sedikit kekanak-kanakan yang membuatku
selalu ingin melindunginya. Bukan hanya aku, tapi seluruh keluargaku
terlebih ibuku.
Jarum jam di tanganku sudah menunjuk ke pukul 19.00, seluruh penumpang dipersilakan untuk Check In dan menunggu di ruang Boarding Pass.
Aku menatap jauh ke dalam manik-manik matanya, aku menemukan
isyarat kalau ia belum mau pulang ke Jakarta. Tapi kalau ia tak segera
pulang, sekolahnya terlantar.
“Tommy…”
“Udah, tahun depan juga ketemu lagi.”
“Iya…” Sahutnya sambil menyeka air mata.
“Masa cuma dipeluk doang.” Ucapnya lagi.
“Terus mau diapain?”
“Cium…”
Kemudian kudaratkan kecupku di atas keningnya.
“Hati-hati, sayang. I love you.”
“I love you too.” Jawabnya, dan kemudian dia sudah tak terlihat di antara kerumunan orang.
*
Sudah sebulan aku tak mengangkat telepon ataupun membalas SMS dan
BBM darinya. Sengaja. Hari ini, aku berangkat ke Jakarta dan ibu menitipkan sesuatu yang
begitu berharga baginya untuknya.
…Akupun sempat janjikan, ku kayuh semua mimpiku kulabuhkan tepat di kotamu.
Dan kaupun selalu janjikan akan menunggu ku datang bersatu kembali seperti dulu… Tunggulah aku di Jakartamu tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu, tempat labuhan semua mimpiku…
Pukul tujuh malam. Sembari menikmati
makan malamku, aku mengetik sebuah pesan instant untuknya.
“Sayang, lagi apa? Aku ada kejutan buat kamu.”
Sayangnya belum ada report pesan
terkirim yang muncul di hpku. Mungkin hpnya mati pikirku. Lalu
menghabiskan makan malamku. Lagu – lagu yang di mainkan homeband itu
membuat aku kembali teringat masa – masa perkenalan kami.
Sempat aku melihat ke jejeran
kursi di depanku. Nampak sepasang lelaki dan perempuan dengan bahasa tubuh yang
memperlihatkan keakraban mereka. Tubuh mereka membelakangiku. Namun
semakin aku memperhatikan gerak gerik mereka nampak ada keganjilan.
Mereka ini seperti pasangan kekasih. Beberapa kali salah satu dari
mereka menggelayut manja pada yang satunya. Aku sedikit jijik mendapati
pemandangan itu. Sesaat kemudian sang cowok memanggil seorang
waiter. Kepalanya menengok ke samping seraya melambaikan tangan. Sebelah
wajah cowok itu terlihat. .
“Ya Tuhan … Ardi??? Kenapa dia ada disini??”
Jantungku berdegup
kencang. Aku bangkit dari kursinkuperlahan. Berpindah ke deretan kursi
yang lebih dekat dengan meja Ardi. Aku melangkah perlahan agar
keberadaanku tidak diketahui Ardi.
Kini antara aku dan pasangan itu hanya berjarak 5 meter. Mereka benar – benar tak
menyadari keberadaanku. Mereka terus berbincang – bincang sambil
sesekali berpegangan mesra. Musik yang menggema tak lagi menarik
perhatian. Minuman di meja mereka sudah habis nampaknya. Mereka kelihatan
akan meninggalkan meja. Aku mengambil kuda – kuda. Mencoba menutupi
wajahku dengan buku menu yang masih rapi di atas
mejaku. Sesekali aku mengintip. Mereka berjalan membelakangiku. Aku terus
mengikuti mereka. Rasa penasaran semakin kuat kurasakan. Aku bergaya ala
detektif. Memperhatikan gerak – gerik mereka dengan seksama.
Ardi dan pasangannya itu menuju ke kolam yang kosong. Mereka duduk
berdempetan. Tubuh Ardi dipijat mesra oleh pasangannya. Aku masih
mengamati dari kejauhan. Namun aku seperti mengenali wanitadi samping
Ardi. Pasangan Ardi berjalan menuju ke toilet. Aku kini menguntitnya.
Membiarkan Ardi sendirian di kolam. Perasaanku makin tak karuan. Cara
berjalan cewek ini sepertinya sangat aku kenal. Rasa penasaran dan emosi
bercampur aduk jadi satu. Saat aku memandang kearah betis cowok itu,
tenggorokanku seakan tercekat.
“Bekas luka itu??” ya bekas luka itu milik Senja.
Aku selalu mengingat
dengan pasti apa yang ada pada kekasihku itu. Aku dan Senja pernah
mengalami kecelakaan motor saat awal bulan lalu Senja pulang ke Bandung.
Betisnya sobek. Harus di jahit. Namun bekas lukanya tak bisa hilang.
Tubuhku seketika
lemas.
Terinspirasi dari lagu Sheila on 7 – Tunggu Aku di jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar