Saya, Telly Rohy. Dilihat dari marga saya, orang NTT pasti langsung sapa saya dengan nama 'INA'. Kenapa 'ina'? Apa hubungannya dengan Marga 'Rohy'? 'Ina' itu adalah nama panggilan hormat buat wanita-wanita Sabu. Karena saya ada keturunan Sabu dari Bapa sy yang juga campuran Bugis, saya bangga dong.
Eh lupa. Marga 'Rohy' itu di NTT diketahui sebagai salah satu marga orang Sabu. Kabupaten-Kabupaten di NTT itu terpisah atas beberapa pulau, dan setiap Kabupaten punya kekhasan marga sendiri-sendiri. Hebat ya.
Awalnya, saya paling tidak suka dipanggil dengan sebutan 'ina' karena saya rasa itu nama yang pasaran. Tapi, apa mau dikata. Face saya sangat menunjukan ke-SABU-an saya. Kecuali HIDUNG. Catet! Hidung saya termasuk paling pesek kalo diukuran orang Sabu. Karena Hidung orang Sabu mancung-mancung banget. Liat aja.
Apa itu karena saya bercampuran Bugis, Sabu dan Ende ya? Jadi. Kulit : Sabu. Rambut : Ende. Na Hidung, Bugis?? Nanti saya tanyakan Bapa saya. Tapi, secara keseluruhan face saya sangat SABU!
Saya sering diledek teman-teman, karena paling tidak ngerti kalo sudah ditanya tentang Sabu. Jangan salahkan saya, tapi salahkan Bapa saya yang membesarkan saya di Sumbawa Besar, bukan di Sabu. Hehe *ngeles*.
Awal pertama saya dan keluarga kembali ke Ende (kota alm. Mama saya). Saya dikagetkan dengan tradisi orang Sabu yang aduhai.. Kenapa aduhai? Hehehe, penggunaan katanya kurang tepat ya tapi saya bingung mau pakek kata apa.
Kami sekeluarga, diharuskan berkunjung ke rumah Oma (Mamanya Bapa) yang sering saya sapa Tua. Tua inilah yang aliran memberi darah Sabu di tubuh saya. Jadi kebayang kan, gimana ramenya keluarga Bapa saya di rumah Oma *gak nyambung*
Begitu sampe di rumah Tua, saya yang waktu itu masih kecil, imut dan menggemaskan *cieh* ketawa sendiri liat tampang-tampang yg mirip Bapa. Bukan karena tampangnya kayak pelawak. Tapi tampang mereka mirip orang-orang India yang sering saya tonton di TV.
Saya dimarahin Bapa dan disuruh salamin semua keluarga besarnya. Dengan nyantainya saya sodorin tangan di orang pertama yang duduk dekat pintu. Oalah tangan saya tidak digubris. Malah si Om berkumis tebal *salah satu khas Ama Sabu* menarik kepala saya dan menciumi hidung saya. Spontan saya menarik kepala saya dan berusaha menjauh. Tapi orang kedua, istrinya Om berkumis tadi menarik saya dan menciumi hidung saya. Dalam keadaan yang masih tetap bingung, saya menciumi hidung semua keluarga Bapa yang ada di dalam ruangan itu. Salah. Maksudnya diciumi. Enak yaa?? Apalagi ada kakak-kakak sepupu saya yang ganteng-ganteng juga menciumi hidung pesek saya.
Setelah selesai, saya bertanya kepada Tua. Dan untungnya Tua saya yang baik itu mau menjelaskan dengan sejela-jelasnya pada anak kecil lugu ini. Ternyata, sesama orang Sabu itu kalo salaman pakek hidung bukan pakek tangan. Saya jadi berpikir, pantas aja orang Sabu hidungnya mancung-mancung. Buat dipakek salaman ternyata. Dan pastinya gak mungkin kena bibir, saking mancungnya.
Sekian. *cium hidung semua yang baca tulisan ini sekarang*
-kicauanku di @nggeme-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar