Rabu, 25 Januari 2012

seingatku tentang Bromo :)

Entah kenapa ketika berhadapan dengan laptop ini, seakan ada mesin di otak yang membagikan kisah pada masing-masing huruf yang berebut disajikan. Ya, mereka sudah menanti keluar dari kepalaku untuk segera berjejer dibacamu. Argh ingin kujitak semua anak anak huruf di kepalaku ini saking merepotkannya. Fiuh.
Beberapa tahun lalu aku mengunjungi Gunung Bromo, lebih tepatnya ada di kakinya. Kata orang surga berada di bawah kaki ibu, namun di kaki gunung ini aku pun melihat sepercik gambarannya. Semua sangat indah. Entah karena teman-temanku yang menyebut-nyebut Gunung Bromo, tetiba aku sangat menggebu untuk  mengunjungi tempat ini hanya untuk menyaksikan matahari mengintip malu malu di ufuk timur dan lalu kemudian ia menggagahi angkasa.
Bayangkan suhu disini bisa 0 derajat!! akhirnya kulitku bisa merasakan apa yang dirasa oleh hatiku yang membeku Zzzzz (ah aku mulai mellow lagi, tolong katakan ke Nyonya Meneer, aku pesan dibuatkan jamu Tolak Mellow).
Ok, ini serius.
Di kaki Bromo yang mana kutelusuri hanya beberapa jarinya ini aku menjadi saksi dimana matahari ternyata pernah hanya sekecil pentul korek api, lalu menjadi bulatan besar. Ah, mungkin kehangatan itu datang seperti itu, dari sesuatu yang kecil dan lalu seiring waktu akan terus membesar. Namun kita harus mengimbangi kehangatan itu dengan awan tulus. Jika tidak, kita bisa kepanasan dan gosong. eh, perumpamaan aneh ya? Sudahlah aku memang lagi mabok. Boleh diabaikan :))
Selain itu disana ada lautan pasir, sepertinya kalau kau suatu saat memutuskan cuek padaku dan kata-kataku, aku akan pergi menghitung pasir disana saja. Hiks, sedih kan. Makanya, JANGAN. Jangan ada tamat diantara kita ;)
Oke, aku rasa ceritaku cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar